Khotbah Minggu Adven 1 ( GKLB )
Bahan Bacaan : Yesaya 9:1-6
Tema : Bersyukur dalam Pengharapan: Terang Yang Akan Datang
Salam sejahtera,
Hari ini kita memasuki Minggu Adven yang pertama. Adven adalah kata yang berasal dari bahasa Latin adventus, yang berarti “kedatangan.” Dalam tradisi gereja, masa Adven adalah empat minggu sebelum Natal, masa di mana umat Kristen diajak untuk mempersiapkan hati menyambut kedatangan Kristus. Tapi Adven bukan hanya mengenang kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem. Adven juga mengarahkan mata iman kita kepada kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, serta mengajak kita menyadari kehadiran-Nya yang hidup di tengah-tengah kita saat ini. Adven adalah masa penantian. Tapi penantian yang dimaksud bukanlah penantian pasif. Adven adalah penantian yang penuh pengharapan, penantian yang aktif, penuh iman, dan penuh kesadaran bahwa terang Tuhan akan datang dan sedang bekerja, bahkan saat dunia kita tampak gelap. Justru dalam masa-masa seperti inilah, kita belajar untuk bersyukur karena kita percaya bahwa Allah setia pada janji-Nya.
Bagian firman Tuhan dari Yesaya 9:1-6 adalah nubuat yang sangat kuat tentang janji pengharapan di tengah keadaan gelap. Untuk memahami kekuatan pesannya, kita perlu sedikit menyelami latar belakang penulisannya. Kitab Yesaya ditulis oleh Nabi Yesaya yang melayani di Yehuda pada abad ke-8 SM, di bawah pemerintahan beberapa raja, seperti Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia. Saat itu, Yehuda dan Israel sedang berada dalam kondisi politik yang tidak stabil. Bangsa Asyur, kekuatan besar dunia saat itu, sedang memperluas kekuasaannya dan menjadi ancaman nyata bagi bangsa-bangsa kecil, termasuk Israel dan Yehuda. Pasal 9 ini muncul setelah bagian yang menggambarkan kegelapan besar, kekalahan, penderitaan, dan pembuangan. Dua wilayah yang disebut dalam ayat 1, yaitu Zebulon dan Naftali, adalah wilayah pertama yang diserang oleh Asyur. Tempat yang dulunya penuh kehidupan menjadi tempat yang sunyi dan penuh penderitaan. Dalam konteks seperti itulah, Yesaya menyampaikan nubuat ini. Di tengah kehancuran dan ketakutan akan masa depan, Allah menyatakan janji-Nya bahwa terang akan bersinar di tengah kegelapan.
Saudaraku,
Yang menarik adalah Yesaya tidak menggunakan kalimat masa depan, melainkan seolah-olah semuanya sudah terjadi. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ini bukan sekedar gaya bahasa, ini adalah deklarasi iman. Janji Allah begitu pasti, sehingga bisa diucapkan seakan-akan sudah tergenapi. Inilah yang membedakan pengharapan yang sejati dari optimisme manusia biasa bahwa pengharapan iman bersandar pada janji Allah, bukan pada situasi. Dan karena itu, kita pun diajak untuk bersyukurbukan karena semuanya sudah menjadi terang, tetapi karena terang itu sudah dijanjikan, dan pasti datang. Dalam hidup ini, kita tidak selalu mengerti waktu Tuhan. Ada musim di mana kita juga berjalan dalam kegelapan, menghadapi kehilangan, kegagalan, pergumulan batin, atau ketidakpastian masa depan. Tapi justru di tengah gelap itulah, Tuhan datang membawa terang-Nya. Terang itu bukanlah sebuah konsep, melainkan pribadi Yesus Kristus, Anak yang lahir, Putra yang diberikan. Nama-Nya bukan nama biasa. Dia disebut Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Dan karena kita tahu siapa yang datang itu, kita bisa bersyukur walau gelap masih menyelimuti. Kita bersyukur karena kita tahu bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya dalam gelap. Kita bersyukur karena pengharapan kita bukan ilusi, tetapi janji yang telah, sedang, dan akan digenapi.Masa Adven mengajarkan kita untuk berjalan seperti Israel yang mendengar nubuat ini mereka tidak melihat terang secara kasat mata, tetapi sudah hidup dalam kepastian bahwa terang itu nyata dan akan datang. Maka mari kita memasuki Mingu-minggu Adven ini dengan hati yang penuh pengharapan dan mulut yang tetap mengucap syukur. Terang itu akan bersinar. Kristus akan datang. Dan hidup kita tidak akan tinggal dalam kegelapan selamanya.
Amin




