Sejarah berdirinya Gereja Kristen di Luwuk Banggai diawali dengan sejarah masuknya Injil di Tanah Banggai Pada tahun 1912, Indische Kerk Belanda mengutus seorang penginjil bernama Ds. J. Kelling (yang waktu itu berpangkal di Makasar) untuk menyebarkan Injil di Daerah Banggai Pemberitaan Injil tersebut dimulai di Distrik Lamala. Pada waktu itu di daerah Luwuk Banggai baru ada 2 agama yakni: Agama Suku PILOGOT dan agama Islam. Dengan melewati proses waktu dan menempuh berbagai upaya dalam pemberitaan Injil, maka pada tanggal 21 Januari 1913 diadakanlah baptisan masal yang pertama di desa Mantokh-Lamala, kemudian pembaptisan berikut berlanjut di desa Molino, dan sesudah itu Ds. J. Keling kembali ke Makasar.
Selanjutnya Indische Kerk menugaskan kepada “Ds. Tumbelaka dari Gereja Masehi Injil Minahasa (GMIM) dan seorang pembantunya untuk melaksanakan pelayanan dan pembinaan bagi Jemaat jemaat di Kabupaten Banggai. Sekolah-sekolah Kristenpun mulai dibangun dan guru-guru agama cukup mengambil peranan dalam menanamkan pengajaran tentang Injil. Memang tidak dapat disangkal, mengawali tugas pemberitaan dan pelayanan bagi orang-orang yang belum ataupun yang sudah menerima baptisan ada banyak faktor yang menyulitkan, antara lain Terbatasnya tenaga Pelayan, penyesuaian dengan bahasa penduduk setempat, jauhnya jangkauan dari badan yang mengutus tenaga penginjil dengan daerah yang menjadi objek penginjilan. Namun demikian seiring dengan perjalanan waktu, beberapa dari orang-orang pribumi yang sudah menerima Injil diutus untuk mengikuti pendidikan di sekolah penginjilan baik di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) maupun di Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM). Dan merekalah yang pada akhirnya membantu meneruskan pelayanan. Pada tahun 1913 Jumlah anggota baptis 2.338 jiwa
Ketika Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) berdiri sendiri, maka Pimpinan Gereja Protestan (Indische Kerk) di Jakarta menyerahkan pelayanan ditanah Banggai kepada GMIM untuk dijadikan daerah Pelayanan Dan itu berlangsung sejak tahun 1935 s/d 1947.
Berhubung komunikasi sulit dan jarak yang terlalu jauh, maka kemudian pelayanan ditanah Banggai diserahkan oleh GMIM kepada Zending Poso (GKST).
Pada tahun 1963 Majelis Sinode GKST membentuk Sinode GKST Wilayah Luwuk Banggai Pelayanan dan kehidupan jemaatpun mulai bertambah dan berkembang yang ditandai dengan terbentuknya jemaat jemaat baru, juga semakin bertambahnya tenaga Pelayan
Akhirnya pada tanggal 27 Januari 1966 Sinode GKST Wilayah Luwuk Banggai ditetapkan sebagai Sinode yang berdiri sendiri dengan nama “Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB)”.
Gereja Kristen di Luwuk Banggai dalam keberadaannya sebagai Gereja bagian Mandiri Gereja Protestan di Indonesia (GPI) tidak terlepas dari sejarah lahirnya Gereja Protestan di Indinesia (GPI) itu sendiri pada tahun 1605 di Ambon Maluku dengan nama “De Protestantche Kerk in Nederlandsch Indie, atau lebih dikenal dengan “Indische Kerk. Gereja Protestan di Indonesia (GPI) memiliki Dasar Hukum dengan Staatsblaad tahun 1927, nomor 155, 156 serta Keputusan Dirjen Bimas Kristen RI No. 115 tahun 1991. Dalam pertumbuhan dan perkembangan tahap awal Gereja Protestan di Indonesia (GPI) melahirkan 4 Sinode yaitu: Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Gereja Protestan di Maluku (GPM), Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB). Jadi, Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) adalah merupakan buah penginjilan/pengembangan dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) sebagaimana telah dipaparkan terdahulu
Seiring dengan perkembangan pelayanan dan semakin bertambahnya jemaat-jemaat GKLB, mengingat luasnya wilayah pelayanan GKLB dan jarak yang harus dijangkau, maka pada tanggal 3 Februari 2000 GKLB dimekarkan lagi dimana Jemaat-jemaat yang berada di wilayah pelayanan Banggai Kepulauan telah berdiri sendiri dengan nama “GEREJA PROTESTAN INDONESIA BANGGAI KEPULAUAN (GPIBK) Dengan demikian wilayah pelayanan GKLB hanya di daerah “Banggai Darat” Adapun keberadaan GKLB setelah pemekaran hingga saat ini terdiri dan 14 Klasis, 169 Jemaat (Jemaat-Jemaat GKLB terdiri dari: Jemaat Dewasa, Jemaat Persiapan, Jemaat Binaan dan Pos P1) Dengan jumlah jwa 37.199.000
Demikian Sejarah Singkat Berdirinya Sinode Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB)
MAJELIS PEKERJA HARIAN SINODE GEREJA KRISTEN DI LUWUK BANGGAI
