Khotbah Minggu, 2 November 2025 ( GKLB )
Bahan Bacaan : Ulangan 8:2-4
Tema : Mengingat Kebaikan dan Mengandalkan Penyertaan Tuhan
Salam Sejahtera,
Syukur kepada Tuhan karena hari ini kita memasuki bulan yang baru. Sebuah momen yang seringkali membuat kita merenung sejenak tentang perjalanan yang telah kita lalui dan apa yang sedang kita hadapi. Setiap pergantian bulan selalu membawa harapan baru, tetapi juga tantangan yang belum tentu kita ketahui. Di tengah semua ini, Tuhan mengundang kita untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang bukan untuk menyesali, tapi untuk mengingat siapa yang telah menyertai kita, siapa yang telah menuntun kita melewati setiap hari, dan siapa yang akan terus menyertai kita ke depan. Dan bulan November ini kita akan merenungkan bagian Firman Tuhan tentang “ Ucapan Syukur “.
Saudaraku,
Firman Tuhan hari ini dari Ulangan 8:2-4 membawa kita masuk ke dalam perenungan yang dalam. Musa, dalam pidato terakhirnya sebelum bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian, mengingatkan mereka untuk tidak melupakan Tuhan yang telah memimpin mereka selama 40 tahun di padang gurun. Musa tahu, generasi ini adalah generasi yang lahir atau dibesarkan dalam masa pengembaraan. Mereka tidak menyaksikan sendiri peristiwa laut Teberau terbelah atau tulah di Mesir. Tapi mereka mengalami sesuatu yang tidak kalah luar biasa yaitu pemeliharaan Tuhan hari demi hari. Tuhan membiarkan mereka lapar, lalu memberi mereka makan dengan manna dari langit ( roti yang tidak dikenal oleh nenek moyang mereka). Hal ini bukan sekadar soal makanan, tetapi lebih pada pendidikan iman bahwa manusia bukan hidup dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Mereka belajar bahwa pemeliharaan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk berlimpah, tapi selalu cukup. Dan bahwa bergantung pada Tuhan bukan hanya saat darurat, melainkan sebagai gaya hidup umat yang percaya.
Saudaraku,
Musa juga mengingatkan bahwa selama 40 tahun di padang gurun, pakaian mereka tidak rusak, kaki mereka tidak bengkak. Pernyataan ini sederhana, tetapi mengandung makna yang luar biasa. Dalam keadaan minim, di tengah kondisi yang keras, Tuhan menjaga mereka. Hal-hal kecil seperti pakaian dan kesehatan kaki sering kita anggap sepele, tapi di situ Tuhan menunjukkan bahwa tidak ada detail hidup kita yang luput dari perhatian-Nya. Renungan ini menjadi sangat relevan bagi kita hari ini. Sebab meskipun kita tidak sedang secara harfiah berjalan di padang gurun, kita semua sedang melewati perjalanan hidup yang penuh ujian. Mungkin itu masalah pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau ketidakpastian masa depan. Namun dalam semua itu, Tuhan sedang membentuk hati kita bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyadarkan bahwa penyertaan-Nya cukup dan setia. Saat kita masuk ke bulan yang baru ini, janganlah terburu-buru menyusun rencana tanpa terlebih dahulu mengingat siapa yang telah memimpin kita sampai hari ini. Ingat bagaimana Tuhan sudah menolongmu bulan lalu, bagaimana Dia menjawab doa, atau bahkan menahan sesuatu yang ternyata tidak baik bagimu. Biarlah hati kita tidak lupa, karena sering kali berbicara tentang lupa hal ini adalah akar dari kemandirian yang palsu. Dan ketika kita mulai merasa cukup oleh kekuatan sendiri, saat itulah kita mulai kehilangan arah.
Saudaraku,
Bulan yang baru adalah kesempatan untuk berjalan kembali bersama Tuhan bukan dengan semangat kepercayaan diri yang kosong, tetapi dengan hati yang mengingat: “Tuhan yang menyertai kemarin, adalah Tuhan yang akan menyertai hari ini dan besok. Jangan lupakan manna yang sudah pernah Tuhan turunkan dalam hidupmu, jangan abaikan pakaian yang tidak rusak dan kaki yang tetap kuat selama perjalananmu. Semua itu bukan kebetulan. Itu tanda bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Mari kita melangkah masuk ke bulan yang baru ini dengan hati yang penuh syukur, ingatan yang setia akan kebaikan-Nya, dan kepercayaan penuh kepada penyertaan-Nya yang tidak akan pernah berkurang. Karena jika Tuhan memelihara Israel selama 40 tahun di padang gurun, Ia juga sanggup memelihara kita setiap hari ke depan.
Amin




