Khotbah Minggu, 23 November 2025 ( GKLB )
Bahan Bacaan : 1 Tesalonika 5:16-18
Tema : Keluarga Yang Menanti Dengan Syukur
Salam Sejahtera,
Hari ini kita memasuki Minggu keempat dimana Minggu ini adalah Minggu pelaksanaan pekan keluarga sebuah momen penuh makna yang mengantar kita menuju Masa Adven. Adven adalah masa penantian, tetapi bukan sekedar menunggu, melainkan menanti dengan harapan, dengan hati yang siap, dan yang terpenting dengan rasa syukur. Di tengah rutinitas, tekanan keluarga, atau bahkan rasa letih karena perjalanan hidup, minggu ini adalah undangan dari Tuhan untuk menoleh sejenak dan berkata: “Tuhan, terima kasih untuk keluarga yang Kau beri. Sekalipun tidak sempurna, namun penuh kasih.” Hari ini, kita merenungkan bersama bagaimana rasa syukur dapat menjadi napas iman dalam keluarga kita khususnya saat kita akan menyambut kelahiran Kristus. Surat 1 Tesalonika ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, salah satu kota penting di Makedonia. Paulus menulis surat ini setelah meninggalkan kota itu karena penganiayaan. Jemaat di sana masih muda dalam iman, namun menunjukkan semangat yang luar biasa. Dalam surat ini, Paulus ingin menguatkan mereka, memberi penghiburan, dan mengingatkan mereka akan pengharapan akan kedatangan Kristus. Salah satu inti pesannya adalah hidup dalam kekudusan dan sukacita sembari menanti Kristus persis seperti yang kita lakukan di masa menyambut minggu-minggu Adven.
Saudaraku,
Perintah “bersukacitalah senantiasa” bukanlah ajakan untuk menutup mata terhadap kenyataan hidup. Paulus menulis itu bukan dari tempat nyaman, melainkan dari pengalaman penganiayaan dan penderitaan. Namun justru dalam kondisi itulah, ia mengajarkan kita bahwa sukacita dan syukur adalah pilihan iman, bukan sekedar perasaan. Dalam konteks keluarga, sering kali kita mudah mengeluh anak-anak yang sulit diatur, pasangan yang tak selalu sejalan, atau kondisi ekonomi yang menekan. Tetapi Tuhan mengajak kita hari ini untuk mengubah keluhan menjadi pujian. Bukan karena keadaan berubah, tetapi karena hati kita berubah. Syukur bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menyadari bahwa kita telah menerima anugerah yang cukup dari Tuhan. Kasih-Nya, penyertaan-Nya, dan pengharapan yang hidup. Menjelang Minggu Adven, mari kita melihat keluarga bukan sebagai beban, tetapi berkat. Syukur membuka mata kita untuk melihat bahwa di tengah kekurangan, Tuhan tetap setia. Di tengah keretakan, Tuhan tetap menyatukan.
Saudaraku,
Adven bukan hanya penantian atas kelahiran Yesus, tetapi juga penantian atas pembaruan hati kita. Dan pembaruan itu dimulai dari rumah dari keluarga. Bersyukur adalah benih kecil yang jika ditanam dalam hati setiap anggota keluarga, akan tumbuh menjadi pohon damai dan sukacita. Mari kita melaksanakan pekan keluarga ini bukan hanya dengan acara atau kegiatan, tetapi dengan komitmen baru yaitu menjadikan rumah kita tempat hadirnya kasih Kristus. Biarlah syukur menjadi hal yang selalu kita nyatakan, dan Masa Adven menjadi momen kebangkitan iman dalam keluarga. Tuhan hadir di keluarga yang bersyukur. Mari sambut Dia dengan hati yang terbuka dan rumah yang penuh kasih. Selamat melaksanakan pekan keluarga di rumah tangga masing-masing dengan penuh sukacita, tekun berdoa dan mengucap syukur.
Amin




