SINODE GKLB Renungan Khotbah Minggu Adven Ketiga ( GKLB )

Khotbah Minggu Adven Ketiga ( GKLB )

Khotbah Minggu Adven Ketiga ( GKLB )

Bacaan Alkitab : Filipi 4:4-7

Tema : Sukacita dalam Keluarga

Salam Sejahtera,

Kita telah tiba pada Minggu Adven ketiga, yang dikenal sebagai Minggu Sukacita yang melambangkan kegembiraan dan pengharapan di tengah masa penantian. Adven bukan hanya masa menunggu kelahiran Kristus secara historis di Betlehem, tetapi juga masa menyiapkan hati untuk menyambut kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Di tengah penantian itu, kita diajak untuk tetap bersukacita. Namun, sering kali sukacita terasa seperti hal yang sulit diraih, apalagi di dalam keluarga. Ada kesibukan, tekanan ekonomi, salah paham antar anggota keluarga, bahkan perasaan letih menghadapi kehidupan. Di tengah situasi seperti ini, pesan Rasul Paulus dalam Filipi 4:4–7 berbunyi dengan sangat kuat: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Sebuah ajakan yang tampaknya sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam, terutama ketika kita mengingat di mana dan dalam kondisi apa Paulus menulis kata-kata itu.

 

Saudaraku,

Surat kepada jemaat di Filipi ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia sedang berada dalam penjara, kemungkinan besar di Roma. Meskipun dalam keadaan terkurung dan tidak tahu pasti apakah ia akan dibebaskan atau dihukum mati, Paulus justru menulis surat yang penuh dengan semangat, ucapan syukur, dan sukacita. Surat Filipi sering disebut sebagai “Surat Sukacita”, karena kata “sukacita” atau “bersukacitalah” muncul berulang kali di dalamnya. Jemaat Filipi sendiri adalah jemaat yang sangat dekat di hati Paulus. Mereka setia mendukung pelayanan Paulus, baik secara rohani maupun materi. Namun, jemaat ini juga menghadapi berbagai tantangan antara lain perselisihan internal, tekanan dari luar, dan kekhawatiran akan masa depan. Paulus tahu bahwa di tengah pergumulan itu, mereka membutuhkan fondasi sukacita yang tidak bergantung pada keadaan, tetapi bersumber dari Tuhan. Itulah sebabnya ia menegaskan bahwa sukacita sejati hanya bisa ditemukan “dalam Tuhan.”

 

Saudaraku,

Filipi 4:4–7 memberikan pesan yang sangat relevan bagi kehidupan keluarga di masa Adven ini. Paulus menulis, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Artinya, sukacita sejati bukan karena keadaan hidup kita selalu baik, tetapi karena kita mengenal Tuhan yang baik dalam segala keadaan. Dalam keluarga, sukacita bukan berarti tidak ada pertengkaran atau masalah, melainkan kemampuan untuk tetap bersyukur, saling menguatkan, dan memelihara damai sejahtera meskipun badai kehidupan datang. Paulus melanjutkan, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Sukacita yang sejati akan melahirkan sikap lemah lembut dan penuh kasih terhadap sesama, terlebih kepada anggota keluarga. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan dekat bukan hanya dalam arti kedatangan-Nya yang kedua, tetapi juga kehadiran-Nya yang nyata setiap hari kita akan belajar untuk memperlakukan satu sama lain dengan kasih dan kesabaran. Keluarga yang menyadari kehadiran Tuhan di tengah mereka akan memancarkan sukacita yang tulus, bukan karena keadaan sempurna, melainkan karena Tuhan hadir dan memelihara.

 

Saudaraku,

Paulus juga menasihati, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Inilah kunci sukacita dalam keluarga yaitu doa dan ucapan syukur. Ketika keluarga belajar untuk membawa segala kekhawatiran kepada Tuhan dalam doa, maka beban menjadi ringan, dan sukacita pun tumbuh. Doa bersama, saling mendukung, dan mengucap syukur atas berkat-berkat kecil setiap hari adalah cara sederhana untuk memelihara sukacita rohani di rumah. Dan janji Tuhan begitu indah dalam ayat 7: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Damai sejahtera ini bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi ketenangan batin yang berasal dari kepercayaan penuh kepada Allah. Dalam keluarga, damai sejahtera Allah akan menjaga relasi suami-istri, orang tua-anak, dan saudara-saudara agar tetap harmonis di tengah perbedaan dan tantangan.

 

Saudaraku,

Minggu Adven ketiga ini mengingatkan kita bahwa sukacita bukan sesuatu yang kita tunggu datang dari luar, melainkan sesuatu yang harus kita pelihara dari dalam hati sukacita yang bersumber dari Kristus. Saat kita menyalakan lilin sukacita, biarlah itu menjadi lambang bahwa kita berkomitmen untuk membawa sukacita Kristus masuk ke dalam rumah kita, menjadi terang yang menghangatkan setiap hati yang letih. Pesan Adven ketiga ini sangat sederhana namun mendalam “ bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan”. Dalam keluarga, sukacita itu menjadi kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup. Sukacita yang sejati bukan hasil dari kondisi yang sempurna, melainkan dari iman yang teguh kepada Kristus yang hadir dan memerintah dalam hidup kita. Marilah kita jadikan keluarga kita sebagai tempat di mana sukacita Kristus nyata melalui senyum yang tulus, perkataan yang membangun, pengampunan yang diberikan, dan doa yang dinaikkan bersama. Ketika sukacita Kristus hidup dalam hati setiap anggota keluarga, maka rumah kita akan menjadi tempat di mana terang Adven bersinar, mempersiapkan kita untuk menyambut kelahiran Sang Raja Damai dengan hati yang penuh sukacita. Kiranya dalam masa Adven ini, setiap keluarga dipenuhi dengan sukacita yang melimpah, damai yang tidak tergoyahkan, dan kasih yang saling menguatkan, karena Tuhan sudah dekat!

Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post