Renungan harian
Rabu, 7 Mei 2025
Pembacaan Firman Tuhan: Roma 14:19
Shalom,
Dalam hidup sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain: keluarga, teman kerja, tetangga, bahkan jemaat di gereja. Perbedaan pandangan, kebiasaan, dan karakter sering kali menimbulkan gesekan. Di tengah kondisi seperti ini, firman Tuhan mengingatkan kita: kejarlah damai dan bangunlah sesama.
Mari merenungkan beberapa hal dalam ayat ini:
1. Damai Sejahtera Harus Dikejar, Bukan Ditunggu
Paulus memakai kata “mengejar” karena damai sejahtera bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kita harus mengambil langkah aktif untuk menciptakan dan menjaga kedamaian. Dalam kehidupan keluarga, ini bisa berarti mengalah untuk menghindari pertengkaran. Di tempat kerja, ini bisa berarti menahan emosi saat merasa tidak dihargai. Damai sejahtera adalah buah dari Roh, tetapi kita juga harus berusaha memeliharanya.
2. Saling Membangun, Bukan Meruntuhkan
Di era sekarang, mudah sekali orang saling menjatuhkan, baik melalui kata-kata langsung maupun di media sosial. Tetapi sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang membangun: memberi semangat, menegur dengan kasih, dan mendorong orang lain bertumbuh dalam iman dan karakter. Apa yang kita katakan dan lakukan setiap hari seharusnya membawa kehidupan, bukan luka.
3. Hidup yang Jadi Kesaksian
Dunia membutuhkan lebih banyak pembawa damai. Ketika kita hidup dengan prinsip ini mengejar damai dan membangun orang lain, kita menjadi terang. Mungkin kita tidak berkhotbah di mimbar, tapi hidup kita sendiri menjadi khotbah yang terbaca orang lain. Damai sejahtera dan kasih yang kita bawa bisa menjadi jembatan bagi orang lain untuk mengenal Kristus.
Saudaraku,
Hari ini, mari kita renungkan: Apakah saya sudah menjadi pembawa damai di lingkungan saya? Apakah saya membangun atau malah melukai orang lain lewat kata-kata dan sikap saya?
Tuhan Yesus menolong kita untuk hidup berguna, saling membangun dan mendatangkan damai sejahtera. Amin




