Renungan harian
Senin, 30 Juni 2025
Pembacaan Firman Tuhan: Yeremia 15:16
Shalom,
Nabi Yeremia bukanlah sosok yang hidup dalam kenyamanan atau ketenangan. Ia diutus Allah di masa yang sangat kelam, ketika bangsa Israel sedang keras kepala, memberontak, dan menolak mendengarkan suara Tuhan. Yeremia harus menyampaikan firman yang tidak populer. Ia dimusuhi bahkan mengalami penderitaan fisik dan batin. Dalam banyak bagian kitabnya, ia meluapkan kesedihan, pergumulan, dan kekecewaannya, bukan hanya terhadap umat Israel, tetapi juga terhadap beratnya beban panggilannya sendiri. Namun di tengah semua itu, ada satu pengakuan yang jujur dan sangat pribadi dari hatinya bahwa firman Tuhan adalah kegirangan dan kesukaan hatinya. Ia berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya.” Ini menunjukkan bahwa dalam segala keletihan dan penderitaannya, Yeremia menemukan penghiburan dan kekuatan dari firman Tuhan. Kata “bertemu” di sini bukan sekadar membaca atau mendengar, melainkan suatu pengalaman perjumpaan. Seperti seseorang yang lapar dan menemukan roti segar, seperti musafir yang menemukan mata air di tengah padang gurun, Yeremia menemukan firman Tuhan sebagai sesuatu yang sangat hidup, memberi kekuatan, dan menumbuhkan kembali harapannya yang nyaris padam.
Saudaraku,
Apa yang Yeremia rasakan tidak datang karena hidupnya bebas dari masalah. Sebaliknya, justru dalam masa paling sulit ia mengalami bahwa firman Tuhan bukan sekadar kata-kata, tetapi sumber kegirangan. Dalam bahasa aslinya, frasa “menikmatinya” menggambarkan sebuah tindakan seperti memakan sesuatu yang sangat dinanti dan sangat lezat. Ini adalah gambaran dari jiwa yang kelaparan dan akhirnya dipuaskan. Firman itu menjadi bukan hanya pengetahuan, tetapi kekuatan batin yang memberi sukacita sejati. Yeremia melanjutkan, bahwa firman itu menjadi kesukaan hatinya “sebab namamu telah diserukan atasku.” Inilah akar dari penghiburan Yeremia: identitasnya ada di dalam Tuhan. Di saat orang lain menghina dan menolak, Yeremia tetap mengingat bahwa dia adalah milik Allah. Nama Tuhan tertulis atas dirinya. Ini adalah pernyataan iman yang sangat kuat di saat semua hal lain tampak tidak menentu, Yeremia masih berpegang pada kebenaran bahwa dia dikenal dan dipanggil oleh Tuhan.
Saudaraku,
Sama seperti Yeremia, kita pun hidup dalam dunia yang penuh tekanan, kesibukan, dan kebisingan yang bisa membuat hati menjadi lelah. Setiap hari membawa tantangan baru, entah itu pekerjaan, keluarga, relasi, atau pergumulan pribadi yang tak terlihat oleh orang lain. Di tengah semuanya itu, firman Tuhan tetap menjadi satu-satunya sumber yang bisa memberi kekuatan yang sejati. Saat kita bertemu dengan firman-Nya di pagi hari, kita tidak hanya membaca teks tetapi kita bertemu dengan Pribadi yang hidup, yang mengenal kita, dan yang mengasihi kita. Firman Tuhan bukan kewajiban rohani semata, tetapi makanan rohani yang sangat kita butuhkan. Tanpa firman, kita akan cepat kehilangan arah, kehilangan damai, dan kehilangan kekuatan untuk bertahan. Tetapi ketika kita menyimpan firman itu di hati, ketika kita mengunyah dan menikmatinya, sukacita akan muncul dari tempat yang tidak terduga. Sukacita yang tidak tergantung pada keadaan, tetapi pada hubungan kita dengan Tuhan.
Saudaraku,
Maka hari ini, sebelum segala aktivitas dimulai, izinkan dirimu bertemu dengan firman Tuhan. Jangan menunggu waktu luang, karena waktu tidak akan pernah cukup. Jadikan itu prioritas, karena dari sanalah kekuatanmu mengalir. Biarkan firman itu menjadi kegirangan hatimu, seperti air yang menyegarkan, seperti roti yang mengenyangkan. Dan ketika kamu melangkah, ingatlah bahwa nama Tuhan telah diserukan atas hidupmu. Kamu bukan siapa-siapa di mata dunia mungkin, tetapi di hadapan Tuhan, kamu dikenal, dikasihi, dan dipanggil. Jangan mulai harimu dengan kekosongan jiwa. Mulailah dengan firman. Di situlah kamu akan menemukan damai, kekuatan, dan arah untuk melangkah. Tuhan Yesus Memberkati kita semua. Amin




