Khotbah Minggu Pertama ( GKLB )
Bahan Bacaan : Kisah Para Rasul 8:26-40
Salam Sejahtera,
Kita hidup dalam zaman yang serba cepat dan penuh pilihan. Banyak orang menuntut kejelasan sebelum melangkah, menunggu penjelasan sebelum taat, dan ingin tahu hasilnya sebelum bersedia berkorban. Tapi Alkitab menunjukkan bahwa cara kerja Tuhan justru sering kali dimulai dari ketaatan tanpa semua jawaban. Kita bersyukur hari ini memasuki bulan yang baru di minggu pertama Bulan Oktober dan sesuai kalender gerejawi kita berada pada hari memperingati momen Hari Pekabaran Injil Indonesia ( diminggu pertama bulan Oktober ) dan sepanjang bulan ini kita akan merenungkan bagian Firman Tuhan dengan tema besar “ Ketaatan “ sebagai salah satu hal yang penting dalam meraih Visi GKLB.
Saudaraku,
Pernahkah Anda membayangkan bahwa satu langkah sederhana dalam ketaatan Anda hari ini menolong seseorang, berbicara kepada orang asing, atau sekedar mengikuti dorongan Roh Kudus bisa menjadi pintu bagi seseorang mengenal Kristus? Tuhan tidak selalu memberi kita gambaran utuh, tapi Ia meminta kita untuk taat. Dan melalui ketaatan yang sederhana namun tulus, Injil bisa menjangkau jiwa-jiwa yang tak kita duga. Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas, seorang tabib dan rekan pelayanan Rasul Paulus. Buku ini adalah lanjutan dari Injil Lukas dan ditujukan kepada Teofilus. Tujuan penulisan Kisah Para Rasul adalah untuk mencatat karya Roh Kudus melalui para rasul setelah Yesus naik ke surga, terutama bagaimana Injil menyebar dari Yerusalem hingga ke ujung bumi.
Saudaraku,
Pasal 8 mencatat masa awal penganiayaan jemaat di Yerusalem yang justru menjadi pintu penyebaran Injil ke daerah-daerah lain. Di tengah penganiayaan itulah kita melihat bagaimana ketaatan pribadi seseorang, dalam hal ini Filipus, membuka jalan bagi bangsa-bangsa lain untuk mengenal Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 8:26–40, kita melihat seorang pria bernama Filipus, yang sudah aktif memberitakan Injil di Samaria, dipanggil oleh malaikat Tuhan untuk meninggalkan pelayanan yang sedang bertumbuh dan pergi ke jalan sunyi di padang gurun. Perintah ini terdengar tidak masuk akal, siapa yang akan dijangkau di tempat sunyi dan sepi? Namun Filipus tidak membantah atau menunda, melainkan segera pergi. Ketaatannya ini membuka jalan bagi sebuah pertemuan ilahi dengan seorang sida-sida Etiopia, seorang pejabat tinggi yang sedang mencari kebenaran tetapi belum mengenal Kristus. Sida-sida ini sedang membaca kitab Nabi Yesaya, namun tidak memahaminya. Di sinilah Filipus, dengan penuh hikmat dan kasih, menjelaskan isi nubuat tersebut dan menyatakannya sebagai kabar baik tentang Yesus.
Saudaraku,
Hasil dari ketaatan Filipus bukan hanya sekedar pertemuan yang menyenangkan atau diskusi Alkitab, tetapi menghasilkan pertobatan dan baptisan dari seorang pria yang akan membawa Injil ke negerinya Etiopia. Ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah misi: satu jiwa yang taat mencari Tuhan, dan satu hamba Tuhan yang taat kepada suara Tuhan, bertemu dan Injil menjangkau benua Afrika. Filipus tidak diberi penjelasan terlebih dahulu. Ia hanya diminta taat. Tapi di balik ketaatan itu, Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang siap dituai. Ketaatan Filipus menjadi saluran bagi Injil menembus batas etnis, status sosial, dan geografis. Tanpa pertumpahan darah, tanpa kerumunan massa, hanya melalui satu pertemuan pribadi, satu percakapan, satu ketaatan Injil diberitakan, dan sebuah bangsa mulai disentuh.
Saudaraku,
Janganlah kita lupa bahwa pekerjaan misi tidak hanya dilakukan oleh para misionaris besar, tetapi juga melalui ketaatan sehari-hari dari orang percaya, seperti Filipus. Mungkin kita bukan seseorang yang terkenal. Tapi Tuhan bisa memakai ketaatan kita entah itu dengan hubungan baik dengan orang-orang disekitar, menjadi berkat di tempat kerja untuk menjadi jalan bagi Injil menjangkau mereka yang haus akan kebenaran. Sebab ketika kita taat, Tuhan yang membuka jalan. Ketika kita melangkah, Tuhan yang menyatakan kuasa-Nya. Dan ketika kita setia, Injil pun bergerak. Melalui kisah Filipus, kita belajar bahwa ketaatan yang sederhana tetapi tulus dapat menjadi pintu bagi karya besar Allah. Filipus tidak tahu siapa yang akan ia temui, tetapi karena ia taat, Injil menjangkau bangsa lain.Demikian juga GKLB dipanggil bukan untuk menunggu kondisi ideal atau hasil yang pasti, tetapi untuk setia melangkah dan melayani dalam ketaatan. Sebab dalam ketaatan itulah Tuhan membuka jalan, menyatakan kuasa-Nya, dan mengerjakan rencana keselamatan-Nya melalui hidup dan pelayanan kita.
Amin




