SINODE GKLB Renungan Khotbah Ibadah Minggu, 9 November 2025 ( GKLB )

Khotbah Ibadah Minggu, 9 November 2025 ( GKLB )

Khotbah Ibadah Minggu, 9 November 2025 ( GKLB )

Bahan Bacaan : Mazmur 136:1-16

Tema : Mengucap Syukur Dalam Pimpinan Tuhan

Salam sejahtera,

Pernahkah kita diam sejenak dan benar-benar memikirkan segala hal yang sudah Tuhan lakukan dalam hidup kita? Mungkin tidak semuanya berjalan sesuai rencana kita. Ada hal-hal yang tidak kita mengerti, ada doa yang belum terjawab, bahkan ada air mata yang belum kering. Tapi di tengah semua itu, ada satu kebenaran yang tidak pernah berubah: Tuhan tetap memimpin kita dengan kasih setia-Nya. Hari ini, kita akan merenungkan sebuah mazmur yang sederhana namun dalam. Mazmur ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, dan mulai mengucap syukur, bukan karena semuanya mudah, tapi karena Tuhan selalu ada. Mari kita buka hati kita untuk mendengar bagaimana kasih setia Tuhan menyertai umat-Nya sejak dahulu, dan bagaimana kasih itu juga tersedia bagi kita hari ini.

 

Saudaraku,

Kitab Mazmur adalah kumpulan lagu, doa, dan pujian yang ditulis oleh berbagai penulis, yang sebagian besar adalah Raja Daud. Mazmur 136 sendiri termasuk dalam kategori mazmur syukur liturgis, yang kemungkinan besar digunakan dalam ibadah umat Israel, di mana para imam menyebutkan perbuatan Tuhan dan umat menjawab dengan kalimat yang berulang: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Pengulangan ini bukan tanpa alasan. Di tengah umat yang sering lupa dan mudah goyah, pengulangan itu adalah pengingat terus-menerus akan kasih Tuhan yang tidak pernah habis. Mazmur ini seperti nyanyian yang dilagukan dengan satu tujuan membangkitkan kesadaran bahwa Tuhan layak disyukuri bukan karena situasi, tetapi karena siapa Dia dan bagaimana Ia memimpin umat-Nya.

 

Saudaraku,

Mazmur ini dibuka dengan seruan sederhana namun penuh makna: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

Ini bukan sekedar ajakan emosional, tetapi dasar yang kuat untuk mengucap syukur karena Tuhan itu baik, dan kasih setia-Nya tidak berubah. Mazmur ini bukan sekedar bernarasi, melainkan mengisahkan perjalanan umat Israel dari penciptaan, pembebasan dari Mesir, sampai Tuhan menuntun mereka menyeberangi Laut Teberau dan memimpin mereka di padang gurun.

Setiap langkah dalam sejarah itu diikuti oleh pengakuan yang sama: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Inilah yang seharusnya juga menjadi irama hidup kita. Bahwa setiap keberhasilan, setiap pertolongan, bahkan setiap tantangan yang Tuhan bawa kita lewati semuanya terjadi di bawah naungan kasih setia-Nya. Menarik untuk disadari bahwa pimpinan Tuhan tidak selalu dalam bentuk jalan yang mudah. Tuhan membebaskan umat-Nya dari Mesir, tetapi tidak langsung membawa mereka ke tanah perjanjian. Ia membawa mereka menyeberangi lautan, melewati padang gurun, menghadapi musuh, dan menunggu waktu Tuhan. Tapi di setiap bagian itu, kasih-Nya tetap sama. Ia tidak pernah menyerah atas umat-Nya.

 

Saudaraku,

Demikian juga dengan kita hari ini. Ada banyak fase dalam hidup kita saat kita keluar dari masa sulit, saat kita menyeberangi “laut merah” dalam hidup kita, atau saat kita ada di padang gurun tempat kering yang penuh ketidakpastian. Namun bila kita melihat lebih dekat, kita akan menyadari bahwa Tuhan tetap memimpin. Kasih setia-Nya tidak pernah habis. Ia setia dalam proses, setia dalam perjuangan, dan setia dalam penggenapan janji. Mengucap syukur bukan berarti menutup mata terhadap kesulitan. Tapi itu berarti kita memilih untuk melihat hidup ini melalui lensa kasih Tuhan yang memimpin, yang menopang, dan yang tidak berubah meskipun keadaan berubah. Mazmur ini memberi kita pelajaran yang sangat sederhana bahwa mengucap syukur bukan hanya saat Tuhan memberi apa yang kita minta, tetapi juga saat Ia menuntun kita melalui jalan yang panjang namun penuh kasih. Ketika kita mengucap syukur, kita sedang mengingat. Dan ketika kita mengingat, kita sedang menguatkan iman kita bahwa Tuhan yang dulu menolong, akan tetap memimpin ke depan. Mazmur 136 mengajak kita menyanyikan kembali kisah perjalanan iman kita. Mungkin belum sempurna, mungkin masih penuh proses, tapi kasih Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Mari kita belajar mengenali kasih setia Tuhan di balik setiap peristiwa. Jangan hanya mengingat Dia saat ada mujizat besar, tapi juga saat Dia memberi kekuatan untuk melangkah satu hari lagi. Dan kalau hari-hari yang lalu Tuhan sudah menyertai kita, mengapa kita harus takut akan hari esok? Bersyukurlah, sebab Ia baik. Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post