SINODE GKLB Renungan Renungan harian Selasa, 24 Juni 2025 

Renungan harian Selasa, 24 Juni 2025 

Renungan harian

Selasa, 24 Juni 2025

Pembacaan Firman Tuhan: Mazmur 94:18

Salam Sejahtera,

Ada mads di mana kita sebagai manusia yang lemah dan terbatas harus mengakui bahwa betapapun kita telah merencanakan, berusaha, bahkan berdoa dengan sungguh-sungguh, ada saat di mana kita tetap merasa kaki kita goyah, hati kita gentar, dan harapan terasa begitu jauh, seakan kekuatan sendiri tidak lagi mampu menopang beban kehidupan yang terus bertambah, dan dalam situasi itulah Mazmur 94:18 menjadi suara yang mewakili isi hati kita, karena di balik pengakuan jujur akan kegoyahan itu, terdapat satu penghiburan yang tak ternilai, yaitu bahwa kasih setia Tuhan yang tidak pernah habis dan tidak pernah bergeser oleh waktu, cuaca, atau keadaan menyokong kita, menopang kita, memeluk kita, bahkan ketika kita sendiri hampir menyerah dan tidak tahu bagaimana harus melangkah.

Saudaraku,

Sang pemazmur tidak berkata, “Ketika kakiku kuat,” atau “Ketika aku berhasil berdiri sendiri,” tetapi justru ia berbicara dari titik terlemah dalam hidupnya ketika ia berpikir bahwa kakinya goyah, ketika ia merasa bahwa ia hampir jatuh, dan ketika dunia di sekelilingnya tidak memberikan tempat untuk bersandar, maka yang menopangnya bukanlah kekuatan sendiri, bukan teman, bukan harta, bukan reputasi, tetapi kasih setia Tuhan, kasih yang tidak pernah memilih waktu untuk hadir, tidak menuntut kesempurnaan kita sebagai syarat untuk menolong, tetapi hadir tepat pada waktunya untuk mengangkat kita kembali dari kejatuhan yang tidak dapat kita hindari dengan kekuatan sendiri.

Saudaraku,

Dan hal yang luar biasa dalam ayat ini adalah bahwa Tuhan tidak diam terhadap kegoyahan kita, tetapi Ia adalah Penopang. Dialah yang menopang, bukan dengan tangan yang lemah, bukan dengan kasih yang sesaat, tetapi dengan kasih setia yang kekal, yang telah membuktikan diri-Nya dalam sejarah bangsa Israel, dalam kehidupan para nabi, dalam pelayanan Kristus di dunia, dan dalam hidup kita sampai hari ini.

Karena itu saudaraku, jika hari ini ada di antara kita yang merasa langkahnya tidak pasti karena tekanan ekonomi, karena pergumulan keluarga, karena sakit yang tak kunjung sembuh, atau bahkan karena hati yang lelah jangan takut untuk berkata seperti pemazmur: “Tuhan, kakiku goyah,” karena pengakuan akan kegoyahan bukanlah tanda kelemahan iman, tetapi undangan bagi kasih Tuhan untuk bekerja secara nyata; dan justru dalam kelemahan kita, kuasa-Nya menjadi sempurna.

Saudaraku,

Jangan takut untuk jujur kepada Tuhan tentang kondisi hati dan hidup kita. Ketika kakimu goyah, jangan berpura-pura kuat datanglah pada Tuhan, karena kasih setia-Nya bukan hanya cukup, tapi lebih dari cukup untuk menopang dan mengangkatmu kembali. Langkah kita mungkin goyah, tetapi tangan-Nya tidak pernah lepas. Tuhan Yesus Memberkati. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post