Renungan harian,
Jumat, 15 Agustus 2025
Bacaan Alkitab: Roma 12:18
Salam Sejahtera,
Dalam dunia yang penuh dengan perbedaan pendapat, konflik, dan ketegangan, hidup dalam damai sering kali terasa seperti sebuah tantangan besar. Tidak jarang kita menemukan diri kita berada dalam situasi yang tidak kita inginkan kesalahpahaman dalam keluarga, perselisihan di tempat kerja, atau bahkan konflik dalam komunitas gereja. Rasul Paulus melalui Roma 12:18 memberikan nasihat yang sangat relevan untuk zaman sekarang: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” Ini adalah panggilan yang bukan hanya bersifat pasif untuk menghindari konflik, tetapi aktif untuk mengejar perdamaian selama kita memiliki kuasa atau kendali atas situasinya.
Jemaat yang diberkati Tuhan,
Ayat ini mengajarkan bahwa perdamaian bukan hanya tanggung jawab orang lain tetapi juga tanggung jawab pribadi kita. Paulus tidak berkata bahwa kita harus memaksakan perdamaian dalam segala situasi, tetapi menekankan bagian yang bisa kita lakukan: “kalau hal itu bergantung padamu.” Artinya, selama kita bisa mencegah pertikaian, menghindari balas dendam, mengampuni, atau memilih untuk bersikap sabar, maka itulah bagian yang Tuhan minta kita lakukan. Hidup dalam damai bukan berarti kita selalu setuju dengan semua orang, tetapi kita memilih untuk tetap mengasihi mereka walau berbeda pandangan. Ini membutuhkan kerendahan hati, penguasaan diri, dan kesediaan untuk melepaskan ego demi terciptanya hubungan yang sehat dan harmonis.
Saudaraku,
Dalam setiap relasi, kita selalu punya pilihan membangun jembatan atau tembok. Roma 12:18 menantang kita untuk menjadi pembawa damai, bukan pembuat masalah. Mungkin tidak semua orang akan membalas niat baik kita dengan sikap yang sama, tetapi Tuhan menilai hati kita dan usaha kita. Selama kita sudah melakukan bagian kita dengan tulus dan rendah hati, kita telah menaati Firman Tuhan. Mari kita mulai dari hal-hal kecil memaafkan, mendengarkan dengan empati, menghindari kata-kata yang menyakiti dan menjadi pribadi yang menciptakan damai, bukan hanya di mulut, tapi juga lewat tindakan nyata. Dunia membutuhkan lebih banyak pembawa damai, dan Tuhan memanggil kita untuk menjadi salah satunya. Amin




