SINODE GKLB Renungan Renungan Harian:  Jumat, 5 September 2025

Renungan Harian:  Jumat, 5 September 2025

Renungan Harian:

Jumat, 5 September 2025

 

Pembacaan Alkitab: Ulangan 30:3a

 

Salam Sejahtera,

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak jarang kita menghadapi badai yang mengguncang rasa persatuan, menyesakkan rasa keadilan, dan menguji keteguhan iman kita kepada kebaikan yang sejati, dan dalam beberapa hari terakhir ini, bangsa Indonesia kembali diuji melalui berbagai peristiwa sosial dan politik yang membuat banyak hati gelisah, kecewa, bahkan putus asa, namun dalam kegelapan itulah suara firman Tuhan dalam Ulangan 30:3a datang sebagai pelita yang menguatkan bahwa “Tuhan, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu,” sebuah janji yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga menyentuh dimensi kolektif bangsa yang sedang merindukan keadilan, kedamaian, dan kesatuan.

 

Saudaraku,

Ayat ini ditulis dalam konteks pemulihan bangsa Israel yang telah tercerai-berai karena ketidaktaatan mereka, tetapi kasih Tuhan tidak membiarkan mereka hancur selamanya sebaliknya, Dia menjanjikan pemulihan asalkan mereka berbalik kepada-Nya dengan segenap hati, dan konteks ini begitu relevan dengan situasi bangsa kita saat ini, di mana kepercayaan publik diuji, luka-luka sosial terbuka kembali, dan banyak yang merasa bahwa harapan untuk perubahan semakin kabur, namun justru di saat seperti inilah Tuhan berbicara bahwa pemulihan bukan hanya mungkin, tetapi pasti terjadi bila kita sebagai umat dan warga bangsa bersedia untuk kembali kepada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih, dan tanggung jawab yang menjadi dasar moral bangsa ini sejak awal kemerdekaan, dan ketika kita bersama-sama memilih untuk tidak menyerah kepada apatisme atau kebencian, melainkan memilih untuk percaya bahwa Tuhan masih bekerja di balik layar sejarah, maka kita sedang membuka pintu bagi pemulihan itu untuk terjadi, bukan hanya secara rohani, tetapi juga secara sosial dan nasional.

 

Saudaraku,

Oleh karena itu, renungan hari ini mengajak kita untuk tidak hanya melihat keadaan bangsa dengan kacamata pesimis atau sinis, tetapi untuk bangkit dalam doa dan tindakan nyata mendoakan para pemimpin agar takut akan Tuhan, mendoakan rakyat agar tidak kehilangan pengharapan, serta mengambil bagian dalam membangun kembali jembatan-jembatan yang sempat runtuh karena perbedaan dan luka batin, sebab jika Tuhan sendiri berjanji untuk memulihkan keadaan umat-Nya, maka sebagai bangsa Indonesia yang percaya kepada kuasa kasih dan kedaulatan-Nya, kita pun bisa menaruh harapan bahwa masa depan kita tidak ditentukan oleh kekacauan hari ini, tetapi oleh kesetiaan Tuhan yang memulihkan, membentuk ulang, dan memberkati setiap bangsa yang berseru kepada-Nya dengan tulus dan karena itu, mari kita tidak berhenti berharap, tidak berhenti berdoa, dan tidak berhenti bekerja untuk pemulihan Indonesia yang sejati. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post