Renungan harian
Rabu, 18 Februari 2026
Pembacaan Firman Tuhan Amsal 10:28
Salam Sejahtera,
Dalam kehidupan yang penuh dengan dinamika, harapan menjadi salah satu kekuatan terbesar yang menopang langkah manusia melewati hari demi hari. Kitab Kitab Amsal, khususnya dalam Amsal 10:28, mengingatkan bahwa “harapan orang benar menjadi sukacita, tetapi pengharapan orang fasik menjadi sia-sia.” Firman ini mengajak kita untuk merenungkan dari mana sumber pengharapan kita berasal, sebab tidak semua harapan berujung pada kebahagiaan yang sejati; ada harapan yang dibangun di atas kebenaran dan iman, tetapi ada pula yang bertumpu pada keinginan egois dan jalan yang menyimpang.
Saudaraku,
Isi dari ayat ini menegaskan bahwa kehidupan yang berakar pada kebenaran akan melahirkan pengharapan yang tidak mengecewakan, karena orang benar menaruh kepercayaannya kepada Tuhan dan hidup selaras dengan kehendak-Nya, sehingga sekalipun menghadapi tantangan, ia tetap memiliki sukacita yang tidak tergoyahkan oleh keadaan; sebaliknya, orang fasik mungkin tampak memiliki banyak rencana dan ambisi, namun karena semuanya dibangun tanpa dasar yang benar, pengharapannya pada akhirnya akan memudar dan meninggalkan kekosongan, sebab apa yang tidak ditopang oleh kebenaran tidak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam ujian waktu.
Saudaraku,
Sebagai penutup, marilah kita memeriksa hati dan arah hidup kita, memastikan bahwa setiap harapan yang kita pelihara berakar pada iman, kebenaran, dan ketulusan di hadapan Tuhan, sehingga sukacita yang dijanjikan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan damai sejahtera yang menetap dalam jiwa; biarlah firman dalam Amsal 10:28 ini menjadi pengingat bahwa hidup benar bukan hanya tentang perbuatan lahiriah, melainkan tentang membangun masa depan dengan pengharapan yang teguh dan tidak sia-sia. Amin




