Khotbah ibadah Minggu, 16 November 2025 ( GKLB )
Bahan Bacaan : Ratapan 3: 21-24 ( ayat 22-23 menjadi renungan )
Tema : Syukur Adalah Respons Atas Kesetiaan Tuhan
Salam Sejahtera,
Tidak selalu mudah mengucap syukur. Kadang, hidup membawa kita ke tempat-tempat yang gelap dan penuh pertanyaan. Mengapa ini terjadi, Tuhan?” atau, “Sampai kapan saya harus menunggu kelegaan?”. Namun di tengah pergumulan hidup seperti itu, hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa syukur sejati bukan lahir dari keadaan yang sempurna, tetapi dari pengakuan yang jujur akan siapa Tuhan itu bahwa kasih setia-Nya tidak pernah habis dan rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Ratapan 3:22–23 bukan ditulis dalam masa sukacita, tetapi justru keluar dari tempat yang paling hancur dalam sejarah umat Tuhan. Dan justru di situ, lahir sebuah pengakuan yang paling dalam bahwa kesetiaan Tuhan tidak pernah berakhir. Maka hari ini, kita diundang untuk melihat bahwa syukur bukan hasil dari berkat, tapi respons atas kesetiaan Tuhan.
Saudaraku,
Kitab Ratapan ditulis oleh Nabi Yeremia, setelah kejatuhan Yerusalem ke tangan bangsa Babel pada tahun 586 SM. Kota kudus itu hancur. Bait Allah dibakar. Banyak korban, banyak yang ditawan, dan Yeremia sendiri menyaksikan semuanya, sebagai seorang nabi yang sebelumnya telah memperingatkan bangsanya, namun tidak didengarkan. Ratapan adalah kitab yang penuh kesedihan. Isinya adalah puisi duka yang mencerminkan kehancuran, kehilangan, dan rasa malu bangsa Israel. Namun, di tengah awan gelap itu, muncul satu bagian yang sangat berbeda, yakni Ratapan 3:21-24. Di tengah reruntuhan, Yeremia tidak hanya menangisi, tetapi juga mengangkat kepalanya kepada satu-satunya harapan yang tersisa dan berkata “ Tuhan yang setia “. Inilah yang membuat ayat ini begitu kuat. Itu bukan pernyataan iman dari orang yang hidup nyaman, tetapi seruan dari seseorang yang kehilangan segalanya dan terus meyakini bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi.
• Firman Tuhan berkata:
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Yeremia memulai dengan pengakuan bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berkesudahan. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan untuk “kasih setia” adalah “ḥesed”, yang bukan sekedar cinta, tapi cinta yang berkomitmen, cinta yang bertahan dalam perjanjian, bahkan saat manusia gagal. Di saat manusia sering berubah, Tuhan tetap. Di saat umat-Nya memberontak, Tuhan tetap memegang janji-Nya. Dan bahkan ketika Tuhan mendidik umat-Nya lewat penderitaan, kasih-Nya tidak pernah benar-benar menjauh. Yeremia tidak menyangkal kenyataan yang pahit, tetapi ia menemukan bahwa kasih Tuhan tidak lenyap bersama kehancuran Yerusalem.
“Tak habis-habisnya rahmat-Nya.” Rahmat Tuhan, atau belas kasihan-Nya, tidak habis walau hari-hari sebelumnya penuh air mata. Justru ayat ini berkata: “Selalu baru tiap pagi.” Betapa luar biasanya gambaran ini. Bahwa di tengah kelamnya malam kehidupan, pagi selalu datang. Dan bukan hanya pagi yang baru, tetapi rahmat Tuhan juga datang bersama pagi itu. Sering kali kita bangun dengan pikiran yang masih membawa sisa beban kemarin. Tapi Tuhan justru mengatakan: “Aku menyediakan belas kasihan yang baru hari ini. Jangan hidup dari rahmat yang lama. Aku beri yang baru setiap hari.” Dan Yeremia mengakhiri pernyataan ini dengan sebuah deklarasi yang tidak digoyahkan oleh situasi: “Besar kesetiaan-Mu!” Inilah alasan sejati untuk bersyukur. Kita bersyukur bukan karena semua masalah selesai, tapi karena kita percaya Tuhan tetap setia. Kesetiaan Tuhan bukan seperti cuaca yang bisa berubah. Ia tetap setia, bahkan saat kita tidak setia.
Saudaraku,
Syukur yang sejati tidak bergantung pada kenyamanan, tetapi muncul dari pengakuan siapa Tuhan di tengah segala musim hidup. Ketika hati kita belajar melihat kesetiaan Tuhan, maka kita akan menemukan alasan untuk bersyukur bukan karena semua sudah baik, tetapi karena kita tahu Tuhan tetap ada, tetap setia, dan tetap memimpin. Hidup ini memang tidak selalu sesuai harapan. Ada banyak pergumulan yang belum selesai. Namun hari ini, firman Tuhan mengingatkan bahwa kita tetap bisa bersyukur. Bukan karena hidup mudah, tapi karena kasih setia Tuhan tidak pernah berhenti. Kita mengucap syukur bukan karena segalanya jelas, tapi karena kesetiaan Tuhan jauh lebih besar dari ketidakpastian kita. Saat kita membuka lembaran baru, entah hari yang baru, minggu baru, atau bulan yang baru, mari kita masuk ke dalamnya dengan satu keyakinan bahwa rahmat Tuhan cukup untuk hari ini, dan kesetiaan-Nya akan menyertai kita besok.
• Syukur bukanlah hasil dari situasi yang baik. Syukur adalah respons hati yang tahu bahwa Tuhan itu baik dan kesetiaan-Nya besar, untuk selama-lamanya.
Amin




