Khotbah Ibadah Malam Akhir Tahun 31 Desember 2025 ( GKLB )
Bacaan Alkitab : Filipi 3:13–14
Tema : Bersama Keluarga Mengakhiri Tahun
Salam Sejahtera,
Malam ini kita tiba pada penghujung satu tahun penuh kisah. Waktu berjalan begitu cepat seperti angin yang berlalu, dan kita akan menutup lembar terakhir dari perjalanan tahun ini. Ada banyak peristiwa yang telah kita lewati bersama keluarga, ada tawa dan tangis, keberhasilan dan kegagalan, sukacita dan kehilangan. Namun satu hal pasti: Tuhanlah yang menopang dan menyertai setiap langkah hidup kita. Di banyak keluarga Kristen, malam akhir tahun sering menjadi waktu yang sangat istimewa waktu untuk berkumpul, berdoa bersama, dan mengingat kembali betapa besar kasih Tuhan yang sudah menuntun kita. Tetapi juga, ini adalah waktu yang tepat untuk merenung bagaimana perjalanan iman kita sebagai keluarga sepanjang tahun ini? Apakah kita semakin dekat dengan Tuhan, atau justru semakin jauh dari-Nya karena kesibukan dan tekanan hidup? Tema kita malam ini dalam ibadah yaitu “Bersama Keluarga Mengakhiri Tahun,” mengajak setiap keluarga Kristen untuk tidak menutup tahun hanya dengan pesta dan perayaan saja, tetapi dengan rasa syukur dan tekad rohani yang baru. Sebab di tengah cepatnya waktu dan tantangan zaman, keluarga yang menaruh pengharapan kepada Tuhan akan tetap berdiri teguh. Dan melalui firman Tuhan malam ini, Rasul Paulus mengajak kita belajar bagaimana mengakhiri tahun dengan hati yang benar di hadapan Allah dengan melupakan yang di belakang, dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan.
Saudaraku,
Surat Paulus kepada jemaat di Filipi ditulis dari dalam penjara. Meskipun berada dalam kondisi yang sulit, surat ini justru dipenuhi dengan nada sukacita dan semangat yang luar biasa. Paulus menulis kepada jemaat yang ia kasihi jemaat yang sangat dekat di hatinya karena mereka setia mendukung pelayanannya. Tujuan Paulus menulis surat ini bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga untuk menasihati jemaat agar tetap hidup dalam sukacita, kesetiaan, dan kerendahan hati, walaupun menghadapi penderitaan dan tekanan. Dalam Filipi 3, Paulus menegaskan bahwa hidup orang percaya adalah perjalanan rohani menuju tujuan surgawi. Ia menolak segala kebanggaan duniawi, termasuk prestasi dan pengalaman masa lalu, karena semuanya tidak sebanding dengan pengenalan akan Kristus. Lalu dalam ayat 13–14, Paulus menulis kalimat yang sangat indah: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Ayat ini mencerminkan semangat seorang pelari yang tidak menoleh ke belakang, tetapi terus berfokus pada garis akhir. Paulus sedang mengajak kita semua baik sebagai pribadi maupun keluarga untuk memiliki semangat rohani yang sama dalam menghadapi perjalanan hidup, termasuk ketika kita mengakhiri satu tahun dan melangkah ke tahun yang baru.
Saudaraku,
Firman ini sangat relevan untuk kita renungkan di malam pergantian tahun. Paulus berbicara tentang dua sikap rohani yang penting untuk dimiliki ketika kita menutup tahun yaitu melupakan apa yang di belakang, dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan.
Pertama, Melupakan apa yang di belakang.
Artinya bukan menghapus ingatan, tetapi memilih untuk tidak terikat oleh masa lalu. Banyak keluarga masih dibebani oleh kegagalan, luka, atau penyesalan di masa lalu. Mungkin ada kata-kata yang menyakiti, kesalahan yang belum dimaafkan, atau rencana yang tidak berjalan sesuai harapan. Firman Tuhan mengajak kita untuk melepaskan semuanya itu di hadapan Allah. Tahun yang lama tidak perlu menjadi beban yang menghantui, tetapi menjadi pelajaran berharga untuk kita melangkah lebih matang dan lebih dekat dengan Tuhan. Sebagai keluarga Kristen, kita diajak untuk saling mengampuni dan berdamai sebelum tahun berakhir. Sebab tidak ada sukacita sejati dalam menyambut tahun baru bila hati masih menyimpan dendam dan kekecewaan. Natal baru saja berlalu dan Sang Juruselamat yang lahir itu datang untuk membawa damai. Maka biarlah malam ini, damai itu juga memenuhi rumah tangga kita.
Kedua, Mengarahkan diri kepada apa yang di depan.
Paulus menggambarkannya seperti seorang pelari yang menatap lurus ke garis akhir. Ia berlari, bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan mata yang tertuju kepada Yesus Kristus, sumber pengharapan. Bagi keluarga Kristen, ini berarti menatap tahun baru bukan dengan kekhawatiran, tetapi dengan iman. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang akan datang apakah berkat, tantangan, atau mungkin kehilangan tetapi kita tahu kepada siapa kita bersandar. Malam ini menjadi saat yang tepat bagi setiap keluarga untuk menyusun kembali arah hidup rohani mereka. Apakah Yesus masih menjadi pusat rumah tangga kita? Apakah doa keluarga masih menjadi bagian dari keseharian kita? Apakah kita masih saling mengasihi dengan tulus? Tahun baru bukan hanya soal kalender berganti, tetapi tentang pembaruan hati dan arah hidup. Rasul Paulus mengakhiri perikop ini dengan berkata bahwa ia berlari “untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Artinya, tujuan akhir dari kehidupan keluarga Kristen bukan sekadar kesuksesan duniawi, tetapi hidup yang memuliakan Tuhan dan membawa setiap anggota keluarga semakin dekat kepada-Nya.
Saudaraku,
Malam ini kita berdiri di antara dua masa yaitu tahun yang lama di belakang kita, dan tahun yang baru di depan mata. Filipi 3:13–14 mengajarkan kita untuk menutup tahun dengan syukur dan iman, serta membuka tahun dengan pengharapan dan komitmen yang baru.
Sebagai keluarga Kristen, mari kita belajar dari Rasul Paulus:
1. Tinggalkan masa lalu yang menyakitkan, dan isilah dengan pengampunan.
2. Hargai setiap berkat yang Tuhan berikan sepanjang tahun.
3. Tatap masa depan dengan keyakinan bahwa Tuhan yang sama akan menyertai kita.
4. Jadikan tahun baru sebagai kesempatan untuk bertumbuh bersama sebagai keluarga yang mengasihi Tuhan dan sesama.
Saudaraku,
Ketika keluarga berjalan bersama Tuhan, maka apa pun yang terjadi, mereka akan tetap kuat. Karena keluarga yang berpusat pada Kristus akan menemukan damai di masa lalu, kekuatan di masa kini, dan pengharapan di masa depan. Biarlah di malam ini, sebelum tahun berganti, setiap keluarga Kristen bersatu hati di hadapan Tuhan, berdoa dan mengucap syukur: “Tuhan, terima kasih atas penyertaan-Mu. Kami menyerahkan tahun yang baru ke dalam tangan-Mu. Pimpinlah keluarga kami agar hidup kami memuliakan nama-Mu.” Selamat menutup tahun lama dan menyambut tahun baru dalam kasih Tuhan. Kiranya setiap rumah tangga Kristen menjadi tempat di mana kasih, iman, dan pengharapan terus hidup karena Allah setia dari dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.
Amin




