SINODE GKLB Renungan Renungan harian  Sabtu, 19 Juli 2025

Renungan harian  Sabtu, 19 Juli 2025

Renungan harian

Sabtu, 19 Juli 2025

Pembacaan Firman Tuhan: Amsal 10:12

Salam Sejahtera,

Amsal 10:12 berkata, “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” Ayat ini menyajikan dua kekuatan yang sangat kontras yaitu kebencian yang menghancurkan, dan kasih yang memulihkan. Kebencian seringkali muncul sebagai reaksi alami dari hati yang terluka. Ia tumbuh pelan-pelan, tersembunyi, namun perlahan menguasai pikiran dan tindakan. Ketika seseorang menyakiti kita, kita merasa berhak untuk marah, menyimpan dendam, bahkan membalas. Kebencian seakan memberi kekuatan, padahal sebenarnya justru meracuni jiwa. Pertengkaran yang muncul bukan semata karena perbedaan pendapat, tetapi karena hati yang telah dipenuhi luka yang tak diobati. Sebaliknya, kasih bekerja dalam diam tetapi kuat. Ia tidak menyangkal bahwa kesalahan itu menyakitkan, namun memilih untuk tidak membalas dengan cara yang sama. Kasih tidak serta-merta melupakan pelanggaran, tetapi memilih untuk tidak membiarkan pelanggaran itu memisahkan relasi. Kasih menutupi bukan dalam arti menyembunyikan, tetapi dalam arti melindungi seperti pakaian yang menutupi tubuh yang luka agar dapat sembuh dengan baik. Kasih memberi ruang bagi pertobatan, memberi kesempatan bagi perbaikan, dan membawa damai di tengah badai pertikaian.

Saudaraku,

Kasih seperti inilah yang Tuhan tunjukkan kepada kita. Ia melihat segala pelanggaran kita, namun tidak menghukum kita setimpal dengan kesalahan kita. Sebaliknya, Ia memberikan kasih karunia melalui pengampunan. Inilah yang menjadi teladan bagi kita untuk tidak membalas kebencian dengan kebencian, tetapi menjawabnya dengan kasih. Hidup dalam kasih bukan berarti lemah justru dibutuhkan kekuatan besar untuk memilih mengasihi saat terluka, untuk mengampuni saat dikhianati, dan untuk tetap percaya pada kebaikan ketika disakiti.

 

Saudaraku,

Renungan ini mengajak kita merenungkan kembali sikap hati kita terhadap sesama. Apakah kita membiarkan kebencian tumbuh dan menciptakan jarak, ataukah kita bersedia menutupi pelanggaran dengan kasih seperti yang Tuhan lakukan kepada kita? Dunia ini penuh dengan perpecahan, tetapi kasih adalah kasih sejati yang sabar, murah hati, dan tidak menyimpan kesalahan dan memiliki kuasa untuk menyatukan kembali apa yang hancur. Kiranya firman ini menjadi cermin bagi kita untuk terus belajar hidup dalam kasih, bukan karena orang lain layak menerimanya, tetapi karena kita sendiri telah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post