Renungan harian,
Selasa, 29 Juli 2025
Pembacaan Firman Tuhan: Mazmur 133:1
Selamat Pagi dan Shalom,
Hidup dalam dunia yang penuh perbedaan dan konflik membuat kita semakin menyadari betapa berharganya sebuah kerukunan. Banyak orang bisa berkumpul, tapi tidak semua bisa hidup dalam damai. Dalam keluarga, gereja, bahkan dalam bangsa, perpecahan bisa muncul karena hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi besar. Di tengah kondisi seperti itu, Mazmur 133:1 hadir seperti udara segar tentang sebuah seruan untuk kembali kepada nilai dasar kehidupan bersama yaitu hidup rukun sebagai saudara. Mazmur ini ditulis oleh Daud dan termasuk dalam kumpulan “Nyanyian Ziarah”, yaitu lagu-lagu yang dinyanyikan umat Israel ketika mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem untuk beribadah. Mereka datang dari berbagai wilayah, latar belakang, dan suku, namun saat berkumpul di kota kudus, mereka menjadi satu umat yang menyembah Tuhan yang sama. Dalam konteks inilah Daud menulis tentang indahnya persaudaraan yang rukun. Daud sendiri mengalami konflik dalam masa pemerintahannya, ia mengalami perpecahan dalam keluarganya, pemberontakan, dan ketegangan politik. Pengalaman-pengalaman ini membuatnya semakin mengerti bahwa kerukunan bukan sesuatu yang murah atau mudah, melainkan sesuatu yang sangat bernilai dan harus diusahakan.
Saudaraku,
Isi dari Mazmur 133 bukan hanya ajakan moral, tetapi ungkapan kerinduan rohani. Daud menggambarkan kerukunan itu sebagai sesuatu yang “baik dan indah”. “Baik” berbicara tentang manfaatnya, kerukunan membawa damai, sukacita, dan berkat. “Indah” berbicara tentang nilai estetikanya kerukunan memancarkan kehangatan, menyenangkan untuk dilihat, dan memberi kesaksian kepada dunia tentang kasih Allah. Dalam ayat-ayat selanjutnya (ayat 2 dan 3), kerukunan digambarkan seperti minyak yang turun ke janggut Harun dan seperti embun Gunung Hermon yang turun ke Sion kedua gambaran ini menyiratkan berkat dan kesegaran yang berasal dari Tuhan sendiri. Dari ayat ini kita diingatkan bahwa hidup rukun bukan sekedar hidup berdampingan tanpa konflik, melainkan hidup dalam kasih, pengertian, dan tujuan yang sama. Ini adalah bentuk kehidupan yang menjadi tempat berdiamnya berkat Tuhan. Jika dalam keluarga, gereja, dan komunitas kita ada kerukunan yang sejati, maka di sanalah Tuhan menghadirkan hadirat-Nya secara nyata.
Saudaraku,
Kiranya kita semua dipanggil bukan hanya untuk menikmati kerukunan, tetapi juga menjadi pelaku dan pembawa damai di mana pun kita ditempatkan. Sebab ketika saudara-saudara diam bersama dengan rukun, di sanalah Tuhan berkenan tinggal dan memberkati. Terpujilah nama Tuhan. Amin




